18+ True Love Never Dies - Lebih prinsip mana kedudukan antara gambar dan cerita dalam sebuah film? Dalam film drama percintaan remaja berjudul 18+ (true love never dies), kedudukan sinematografi dan skenario seperti diadu domba.
Sebagai sebuah satu kesatuan yang seharusnya laras membangun sebuah cerita, bersama cara penyutradaraan, keaktoran, music score dan lini lain yang melengkapi bangunan orkestrasi sebuah film, 18+ menjadi timpang.
True Love Never Dies - Nayato Fio Nuala, sutradara yang pernah terbukti membajak ilustrasi musik film Korsel berjudul Kaeguki, dalam film Ekskul 2006 lalu, masih saja gamang melaraskan antara bahasa cerita dengan gambar. Hasilnya, film produksi Starvision yang akan liris mulai hari ini (28/1), mengalir jauh dari kata sempurna.
Sebagaimana telah dikenal dalam jejak rekammnya, Nayato yang rapi, jeli dan pintar memainkan, serta meletakkan cahaya, untuk kemudian berhasil menyajikan gambar yang apik, masih saja kepayahan menyajikan sebuah cerita yang wajar dan runut. Maksud baik ketiga penulis skenarionya, yaitu Ery Sofid, Eka D. Sitorus, dan Viva Westi untuk menghadirkan cerita yang kuat, hanya membekas dalam eksekusi bentuk filmnya, dalam bentuk sekedarnya.
Tema besar tentang perjalanan romantisme dua pria bersahabat dalam melakukan pengorbanan untuk kekasih-kekasih hati yang mereka cintai, tersaji dengan tidak runut, timpang, dan janggal. Padahal kualitas gambarnya, teristimewa komposisi dan pencahayaannya, sebagaimana diamini pemerhati film Yan Widjaja, mengingatkan pada film-film art sutradara Taiwan, Wong Kar Wai.
Namun sayang, film ini akhirnya semakin meneguhkan keberadaan film Indonesia terkini cenderung kedodoran pada masalah penyajian cerita. Meski tidak harus runut, paling tidak, karena masuk dalam kategori film cerita, sepatutnya tetap patuh pada logika drama. Apalagi sebagai film yang menyasar penonton remaja 18+, akan dinikmati penonton ABG.
18+ memusat pada konflik antara Raka (Samuel Zyglwyn), Topan (Adipati), Chanisa (Stevanie Nasyahab), Nayla (Arumi Bachsin), dan Helen (Leylarey Lesesne). Kelima sekawan itu berperan sebagai sepasang kekasih, dan seorang perempuan mantan kekasih diantara mereka berempat.
Raka juga mempunyai seorang kakak yang berprofesi sebagai penjaja sex (Bella Nasyahab). Sementara kekasih Raka, yaitu Helen, adalah teman baik Chanisa. Sedangkan Chanisa yang terjangkit penyakit paru-paru akut itu, adalah kekasih Topan, yang tak lain adalah kawan baik Raka. Sementara Nayla, adalah mantan kekasih Topan, yang dikisahkan mempunyai kecenderunga posesif kepada Topan, meski telah memutuskannya.
Pada subplot kecil lainnya, juga dikisahkan orang tua Topan adalah potret keluarga broken home. Bahkan Topan dikisahkan harus memergoki, dan belajar berbesar hati harus mengetahui jika bapaknya (Arie Sudarsono) gay. Sedangkan ibunya (Wulan Guritno) sibuk browsing di internet untuk kemudian gemar ''memuaskan dirinya sendiri''.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar